CONTOH MODUL PRAKTIKUM

MODUL PRAKTIKUM
MIKROKONTROLER DAN INTERFACING

WORKSHOP INSTRUMENTASI
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK INSTRUMENTASI
JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2009

PERCOBAAN I
SENSOR DAN SINYAL CONDITIONING

1. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui dan memahami prinsip kerja dari SC ( Zero Span dan Differensiator )
2. Merancang SC Zero Span dan Differensiator

3. Memahami karakteristik sensor thermal, mekanik, dan optic.

A. SENSOR
1.1 Pengertian Sensor
Sensor merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk merubah besaran fisik tertentu agar dapat diukur. D Sharon, dkk (1982), mengatakan sensor adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi gejala-gejala atau sinyal-sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi seperti energi listrik, energi fisika, energi kimia, energi biologi, energi mekanik dan sebagainya. Dalam memilih peralatan sensor yang tepat dan sesuai dengan sistem yang akan disensor maka perlu diperhatikan persyaratan umum sensor berikut ini :
a. Linearitas
Ada banyak sensor yang menghasilkan sinyal keluaran yang berubah secara kontinyu sebagai tanggapan terhadap masukan yang berubah secara kontinyu. Sebagai contoh, sebuah sensor panas dapat menghasilkan tegangan sesuai dengan panas yang dirasakannya
b. Sensitivitas
Sensitivitas akan menunjukan seberapa jauh kepekaan sensor terhadap kuantitas yang diukur. Sensitivitas sering juga dinyatakan dengan bilangan yang menunjukan “perubahan keluaran dibandingkan unit perubahan masukan”. Beberepa sensor panas dapat memiliki kepekaan yang dinyatakan dengan “satu volt per derajat”, yang berarti perubahan satu derajat pada masukan akan menghasilkan perubahan satu volt pada keluarannya. Sensor panas lainnya dapat saja memiliki kepekaan “dua volt per derajat”, yang berarti memiliki kepakaan dua kali dari sensor yang pertama. Linieritas sensor juga mempengaruhi sensitivitas dari sensor. Apabila tanggapannya linier, maka sensitivitasnya juga akan sama untuk jangkauan pengukuran keseluruhan.
c. Tanggapan Waktu
Tanggapan waktu pada sensor menunjukan seberapa cepat tanggapannya terhadap perubahan masukan. Sebagai contoh, instrumen dengan tanggapan frekuensi yang jelek adalah sebuah termometer merkuri. Masukannya adalah temperatur dan keluarannya adalah posisi merkuri. Misalkan perubahan temperatur terjadi sedikit demi sedikit dan kontinyu terhadap waktu.
Frekuensi adalah jumlah siklus dalam satu detik dan diberikan dalam satuan hertz (Hz). { 1 hertz berarti 1 siklus per detik, 1 kilohertz berarti 1000 siklus per detik]. Pada frekuensi rendah, yaitu pada saat temperatur berubah secara lambat, termometer akan mengikuti perubahan tersebut dengan “setia”. Tetapi apabila perubahan temperatur sangat cepat, maka tidak diharapkan akan melihat perubahan besar pada termometer merkuri, karena ia bersifat lamban dan hanya akan menunjukan temperatur rata-rata.

Perkembangan sensor sangat cepat sesuai kemajuan teknologi otomasi, semakin komplek suatu sistem otomasi dibangun maka semakin banyak jenis sensor yang digunakan. Dalam system pengukuran dikenal beberapa jenis sensor diantaranya yaitu :
1. Sensor thermal
Sensor thermal adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi gejala perubahan panas/temperature/suhu pada suatu dimensi benda atau dimensi ruang tertentu.
Contoh: resistance temperature detector (RTD), thermistor thermocouple, LM-35

2. Sensor mekanik
Sensor mekanis adalah sensor yang mendeteksi perubahan gerak mekanis, seperti perpindahan atau pergeseran atau posisi, gerak lurus dan melingkar, tekanan, aliran, level dsb.
Contoh: potensiometer, linear variabel differential transformer (LVDT), strain gauge plezoelectric
3. Sensor optic
Sensor optic atau cahaya adalah sensor yang mendeteksi perubahan cahaya dari sumber cahaya, pantulan cahaya ataupun bias cahaya yang mengernai benda atau ruangan.
Contoh: photoconductive detectors, photovoltaic detectors, photodiode detectors, photoemisive detectors, light dependent resistant (LDR)

B. SINYAL CONDITIONING
Ada berbagai macam sinyal conditioning yang tentu saja mempunyai fungsi untuk mengkondisikan sinyal output yang keluar dari suatu device misalnya sensor. Untuk kemudian digunakan sebagai inputan device lain.
Sinyal conditioning zero span merupakan sinyal conditioning yang terdiri dari dua buah Op-Amp dimana Op-Amp yang pertama berfungsi untuk mengenolkan input minimum, sedangkan Op-Amp kedua berfungsi untuk menguatkan input maksimum. Zero Span sutau rangkaian dari komponen aktif ( Op-Amp ) yang di gunakan untuk menghasilkan.

Gambar 1.1 Zero Span

Diffrensiator adalah rangklaian yang melakukan operasi diferensiasial secara matematika.Rangakaian ini menghasilkan tegangan keluaran yang sebanding dengan kemiringan tegangan masukan. Pemakaian yang umum dari sebuah differensiator adalah mendeteksi tepi mendahului dan tepi ketinggalan dari sebuah pulsa persegi atau untuk menghasilkan keluaran persegi dari masukan lereng. Dalam alat ukur kapasitansi meter ini kapasitor yang akan diukur merupakan bagian dari differensiator itu sendiri. Untuk lebih jelasnya perhatikan
gambar 2.2 berikut ini :

Gambar 1.2 Differensial

Gambar 3.2 memperlihatkan sebuah differensial op-amp. Rangakaian differensiator ini amper mirip dengan rangakaian integrator hanya saja posisi tahanan dan kapasitornya yang berbeda. Bila tegangan masukan berubah, kapasitor diisi atau dikosongkan. Karena adanya tanah semu, arus kapasitor mengalir melalui tahanan umpan balik, mengahasilkan tegangan. Tegangan ini setara dengan kemiringan dari tegangan masuk.
Sinyal conditioning differensiator memiliki dua terminal masukkan, masukkan pertama dan kedua dan perbedaan diantara kedua ini diperkuat. Bila tegangan V1 > V2 maka inverting dan penguatan tegangan menjadi :

Av = Vout/V1
= -R2/R1

Sebaliknya bila V2 > V1 maka non inverting dan penguatan tegangan menjadi :

Av = Vout/V1
=[ R4/(R3+R4)][1+R2/R1)

Jika R1=R2 dan R3=R4 maka :
Vout = R4(V2-V1)/R4

Gambar 1.3 Rangkaian Differensial

Idealnya tegangan keluaran suatu penguat operasional sama dengan nol pada saat masukan mempunyai tegangan nol, untuk beberapa jenis Op-Amp ternyata Vout tidak sama dengan nol meskipun masukannya nol, tegangan ini disebut Offset masukan. Tegangan Offset masukan dari suatu Op-amp sama dengan tegangan keluaran untuk tegangan masukkan nol dibagi dengan penguatan tegangan loop terbuka penguat tersebut. Biasanya berkisar 1 Mv.

Integrator
Rangkaian integrator op-amp ini juga berasal dari rangkaian inverting dengan tahanan umpan baliknya diganti dengan kapasitor. Proses perhitungannya sebagai berikut:

Biasanya rangkaian untuk aplikasi ada penambahan tahanan yang diparalel dengan kapasitor dengan dinama RF. Seperti pada gambar 2.29 rangkaian integrator yang belum di tambah tahanan yang diparalel dengan kapasitor. Nilai ROM adalah antara nol sampai dengan R1.

Gambar 1.4 Rangkaian integrator op-amp sederhana

 Peralatan Percobaan
1. Resistor
2. Potensiometer
3. IC LM 324
4. IC LM 741
5. LED
6. Multimeter Digital
7. Power Supply
 . Prosedur Percobaan
1. Percobaan Zero Span
 Buat rangkaian seperti gambar 2.1
 Atur potensiometer agar tegangan 0 sampai 5 V
 Atur potensiometer yang lain agar tegangan referensinya tetap.
 Catat perubahan nilainya.
2. Percobaan Differensial Amplifier
 Buat rangkaian seperti gambar 2.2
 Ubah nilai resistor dan nilai tegangan input yang digunakan.
Catat tegangan ouputnya

PERCOBAAN II
MINIMUM SISTEM ATMega 8535

1. TUJUAN PRAKTIKUM
 Mampu memahami prinsip kerja dan membuat Minimum System dari Mikrokontroler AVR
 mampu mengaplikasikan Mikrokontroler AVR atmega8535.

A. Mikrokontroler AVR ATMega 8535
Atmel AVR adalah jenis mikrokontroler yang paling sering dipakai dalam bidang elektronika dan instrumentasi. Mikrokontroler AVR ini memiliki arsitektur RISC (Reduce Instruction Set Computing) delapan bit, di mana semua instruksi dikemas dalam kode 16-bit (16 bits word) dan sebagian besar instruksi dieksekusi dalam 1 (satu ) siklus clock. Secara umum, AVR dapat dikelompokkan dalam 7 kelas, yaitu keluarga ATTiny, keluarga AT90Sxx, keluarga ATMega, keluarga ATXMega, keluarga ATUSBxx, keluarga ATPWMxx dan AT86RFxx. Pada dasarnya yang membedakan masing-masing kelas adalah memori, peripheral dan fungsinya. Salah satu mikrokontroler AVR yang sering dipakai adalah ATMega8 dan ATMega 8535. Selain ATMega8535, Atmel selaku pengembang mikrokontroller AVR juga mengembangan ATMega32 dengan kapasitas program memori mencapai 32 KB, ATMega32 memiliki susunan pin yang sama dengan ATMega8535, selain ATMega32 masih terdapat AVR seri ATMega yang lain sebut saja ATMega162, ATMega168, ATMega64, ATMega88 dan ATMega128. masing masing dengan fitur dan kemasan yang berbeda-beda. Perbedaan yang terdapat pada masing-masing kelas adalah kapasitas memori, peripheral, dan fungsinya. Dalam hal arsitektur maupun instruksinya, hampir idak ada perbedaan sama sekali. Dalam hal ini ATMEGA8535 dapat beroperasi pada kecepatan maksimal 16MHz serta memiliki 6 pilihan mode sleep untuk menghemat penggunaan daya listrik.

Konfigurasi pin ATMEGA8535

Gambar 2.1 IC plus pin-pin AVR Atmega8535
• VCC = pin masukan catu daya
• GND = pin ground
• Port A (PA0 – PA7) = pin I/O (bidirectional), pin ADC
• Port B (PB0 – PB7) = pin I/O (bidirectional), pin timer/counter, analog comparator, SPI
• Port C (PC0 – PC7) = pin I/O (bidirectional), TWI, analog comparator, Timer Oscilator
• Port D (PD0 – PD7) = pin I/O (bidirectional), analog comparator, interupsi eksternal, USART
• RESET = pin untuk me-reset mikrokontrole
• XTAL1 & XTAL2 = pin untuk clock eksternal
• AVCC = pin input tegangan ADC
• AREF = pin input tegangan referensi ADC
ATMega8535 memiliki On-Chip In-System Reprogrammable Flash Memory untuk menyimpan program. Untuk alasan keamanan, program memory dibagi menjadi dua bagian yaitu Boot Flash Section dan Application Flash Section. Boot Flash Section digunakan untuk menyimpan program Boot Loader, yaitu program yang harus dijalankan pada saat AVR reset atau pertamakali diaktifkan. Application Flash Section digunakan untuk menyimpan program aplikasi yang dibuat user. AVR tidak dapat menjalankan program aplikasi ini sebelum menjalankan program Boot Loader. Besarnya memori Boot Flash Section dapat diprogram dari 128 word sampai 1024 word tergantung setting pada konfigurasi bit di register BOOTSZ. Jika Boot Loader diproteksi, maka program pada Application Flash Section juga sudah aman.ATmega8535 juga memiliki memori data berupa EEPROM 8-bit sebanyak 512 byte. Alamat EEPROM dimulai dari $000 sampai $1FF. 2.3.4. Status Register (SREG) Status Register merupakan register berisi status yang dihasilkan pada setiap operasi yang dilakukan ketika suatu instruksi dieksekusi. SREG merupakan bagian dari inti CPU mikrokontroller.

 Peralatan dan Komponen Percobaan
Adapun peralatan dan komponen yang diperlukan dalam percobaan ini adalah :
• Solder
• Timah
• PCB Dot Matriks
• Mikrokontroler AVR Atmega8535 + Socket
• Kristal 11,0592 MHz
• Kapasitor Unipolar 22 pF dan 100 pF
• Kapasitor Bipolar 4,7 F 16V
• Resistor 1 K
• Konektor 2 pin
• Kabel Data 16 pin
• Header 2 x 40 pin
• Led merah
• Push On
• Kabel Pelangi

• Prosedur Percobaan
Langkah-langkah dalam melakukan percobaan ini adalah :
a. Membuat Rangkaian seperti Gambar 3.1

Gambar 2.2 Minimum System MicrocontrollerAVR Atmega0535
b. Memasang Catu Daya 5 V pada Micro-System.
c. Menjalankan Micro system.

PERCOBAAN III
DISPLAY

1. TUJUAN PRAKTIKUM
 Mampu memahami dan membuat sebuah konfigurasi dari mikrokontroller atmega8535 dengan sebuah display berupa LCD
 Mampu mengkoneksikan antara mikrokontroller dengan LCD.

A. DISPLAY ( LCD )
LCD ( Liquid Crystal ) diterjemahkan kristal cair, jadi LCD merupakan display yang didalamnya terdiri dari krista-kristal cair tersebar secara tidak teratur dan dapat bergerak acak ke segala arah. Pada tahun 1888, seorang ahli botani, Friedrich Reinitzer, menemukan fase yang berada di tengah-tengah antara fase padat dan cair. Fase ini memiliki sifat-sifat padat dan cair secara bersama-sama. Molekul-molekulnya memiliki arah yang sama seperti sifat padat, tetapi molekul-molekul itu dapat bergerak bebas seperti pada cairan. Fase kristal cair ini berada lebih dekat dengan fase cair karena dengan sedikit penambahan temperatur (pemanasan) fasenya langsung berubah menjadi cair. Sifat ini menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap temperatur. Sifat inilah yang menjadi dasar utama pemanfaatan Kristal cair dalam teknologi.
Perkembangan LCD
Jenis kristal cair yang digunakan dalam pengembangan teknologi LCD adalah tipe nematic (molekulnya memiliki pola tertentu dengan arah tertentu). Tipe yang paling sederhana adalah twisted nematic (TN) yang memiliki struktur molekul yang terpilin secara alamiah dikembangkan pada tahun 1967. Struktur TN terpilin secara alamiah sebesar 90o (Gambar 5). Struktur TN ini dapat dilepas pilinannya (untwist) dengan menggunakan arus listrik.

Gambar 3.1 Ilustrasi Twisted Nematic (TN)

Gambar 3.2 Susunan sandwich layar LCD

Pada Gambar 3.2, kristal cair TN (D) diletakkan di antara dua elektroda (C dan E) yang dibungkus lagi (seperti sandwich) dengan dua panel gelas (B dan F) yang sisi luarnya dilumuri lapisan tipis polarizing film. Lapisan A merupakan cermin yang dapat memantulkan cahaya yang berhasil menembus lapisan-lapisan sandwich LCD. Kedua elektroda dihubungkan dengan batere sebagai sumber arus. Panel B memiliki polarisasi yang berbeda 90o dari panel F. Begini cara kerja sandwich ajaib ini. Cahaya masuk melewati panel F sehingga terpolarisasi. Saat tidak ada arus listrik, cahaya lewat begitu saja menembus semua lapisan, mengikuti arah pilinan molekul-molekul TN (90o), sampai memantul di cermin A dan keluar kembali. Tetapi ketika elektroda C dan E (elektroda kecil berbentuk segi empat yang dipasang di lapisan gelas) mendapatkan arus, kristal cair D yang sangat sensitif terhadap arus listrik tidak lagi terpilin sehingga cahaya terus menuju panel B dengan polarisasi sesuai panel F. Panel B yang memiliki polarisasi yang berbeda 90o dari panel F menghalangi cahaya untuk menembus terus. Karena cahaya tidak dapat lewat, pada layar erlihat bayangan gelap berbentuk segi empat kecil yang ukurannya sama dengan elektroda E (berarti pada bagian tersebut cahaya tidak dipantulkan oleh cermin A).
LCD Character

Gambar 3.3 Charakter LCD

Tabel 3.1 Keterangan Pin AVR

Tabel 3.2 Charakter Set

Fungsi Register LCD
Modul display LCD sudah dilengkapi dengan sebuah kontroler yang memiliki dua register 8 bit yaitu instruction register (IR) dan data register (DR). IR menyimpan kode instruksi, seperti display clear, cursor shift dan informasi address untuk display data RAM (DDRAM) dan character generator (CGRAM).
Tabel 3.3 Register Untuk LCD

Busy flag = 1 saat kontroler sedang mengerjakan instruksi, selama instruksi tersebut belum selesai dikerjakan, kontroler tidak akan menerima instruksi apapun. Ketika RS=0 dan R/W=1, busy flag mengeluarkan logika 1 pada DB7. Instruksi berikutnya akan siap diterima ketika busy flag = 0. Address Counter (AC) Address counter berisi address DDRAM dan CGRAM. Display Data RAM (DDRAM) DDRAM menyimpan data display dalam bentuk kode karakter 8 bit. Kapasitasnya adalah 80 karakter. Berikut adalah posisi address DDRAM pada LCD 16×2 :

Gambar 3.4 Seusunan Alamat LCD

Peralatan dan Komponen Percobaan
Adapun peralatan dan komponen yang diperlukan dalam percobaan ini adalah :
• Solder
• Timah
• Kabel Pelangi
• Power Supplay
• Modul AVR Atmega8535
• PC dengan menggunakan software code vision.
• Displey

Prosedur Percobaan
Langkah-langkah dalam melakukan percobaan ini adalah :
d. Membuat Rangkaian seperti Gambar 3.5

Gambar 3.5 Koneksi Antara Atmega8535 Dengan LCD
e. Memasang Catu Daya 5 V pada Micro-System.
f. Membuat listing program dan mendownlod program pada AVR.
g. Menjalankan Micro system

PERCOBAAN IV
KOMUNIKASI SERIAL

Tujuan Praktikum
1. Praktikan dapat menjelaskan cara kerja komunikasi serial pada mikrokontroler
2. Praktikan dapat menjelaskan fungsi pin TxD dan RxD pada mikrokontroler
3. Praktikan dapat memprogram mikrokontroler AVR untuk komunikasi serial ke PC, serta menggunakan software Code Vision AVR untuk menampilkan data.
4. Praktikan dapat membuat suatu rancangan sistem minimum mikrokontroler untuk komunikasi data menggunakan port serial

Dasar Teori
Port serial pada mikrokontroller terdiri atas dua pin yaitu RXD dan TXD, RXD berfungsi untuk menerima data dari komputer/perangkat lainnya, TXD berfungsi untuk mengirim data ke komputer/perangkat lainnya, Standar komunikasi serial untuk komputer ialah RS-232, RS-232 mempunyai standar tegangan yang berbeda dengan serial port mikrokontroler, sehingga agar sesuai dengan RS-232 maka di butuhkan suatu rangkaian converter, IC yang digunakan bermacam-macam, tetapi yang paling mudah dan sering digunakan ialah IC MAX232/HIN232. Pada mikrokontroler AVR ATmega 16, pin PD0 dan PD1 digunakan untuk komunikasi serial USART (Universal Synchronous and Asynchronous Serial Receiver and Transmitter).

Gambar 4.1 Pin Configuration RS232 9 Pin

Gambar 4.2 Wiring Diagram RS232 ke Mikrokontroler

Tabel 1.1. Konfigurasi Pin dan nama bagian konektor serial DB-9
Pin
Number Signal
Name
Direction
Description

1
DCD
In
Data Carrier Detect /Reciever Line Signal Detect

2

RxD
In
Reciever Data

3
TxD
Out
Out Transmitter Data

4

DTR
Out
Out Data Terminal Ready

5

GND

Ground

6

DSR
In
Data Set Ready

7

RST
Out
Out Request To Send

8

CTS
In
In Clear to Send

9
RI
In
In Ring Indicator

Bahasa Pemrograman
Program aplikasi CodeVisionAVR juga dilengkapi IDE yang sangat user friendly Selain menu-menu pilihan yang umum dijumpai pada setiap perangkat lunak berbasis Windows, CodeVisionAVR ini telah mengintegrasikan perangkat lunak downloader (in system programmer) yang dapat digunakan untuk mentransfer kode mesin hasil kompilasi kedalam sistem memori microcontroller AVR yang sedang diprogram.
Selain itu, CodeVisionAVR juga menyediakan sebuah tool yang dinamakan dengan Code Generator atau CodeWizardAVR (lihat gambar 1.2). Secara praktis, tool ini sangat bermanfaat membentuk sebuah kerangka program (template), dan juga memberi kemudahan bagi programmer dalam peng-inisialisasian register-register yang terdapat pada microcontroller AVR yang sedang diprogram. Dinamakan Code Generator, karena perangkat lunak CodeVision ini akan membangkitkan kode-kode program secara otomatis setelah fase inisialisasi pada jendela CodeWizardAVR selesai dilakukan. Gambar 1.3 berikut memperlihatkan beberapa penggal baris kode program yang dibangkitkan secara otomatis oleh CodeWizardAVR. Secara teknis, penggunaan tool ini pada dasarnya hampir sama dengan application wizard pada bahasa-bahasa pemrograman Visual untuk komputer (seperti Visual C, Borland Delphi, dan sebagainya)

Gambar 4.3 Code Generator yang dapat digunakan untuk menginisialisasi register-register pada microcontroller AVR

Gambar 4.4. Kode-kode program yang dibangkitkan otomatis oleh code generator

Peralatan dan Gambar Rangkaian Percobaan
1. Mikrokontroler AVR
2. PC
3. Software Code Vision AVR
Untuk mengirimkan data, atau menggunakan I/O register UDR seperti contoh berikut:
unsigned char judul[]={“Praktikum AVR”};
UCSRA=0x00;
UCSRB=0x18;
UCSRC=0x86;
UBRRH=0X00; // Baud rate 9600bps, pada kristal 4 MHz
UBRRL=0X19;
puts(judul); //tampilkan pesan dan ganti baris
UDR=’O’;

Penerapan pada Program
Percobaan 1. Mengirim data ke PC
Langkah-langkahnya:
1. Siapkan Smart AVR ATmega 16 ver. 2.0, dan hubungkan dengan kabel AVR ISP Programmer ke PC. Hubungkan kabel serial dari mikrokontroler ke port serial PC
2. Buat program di bawah ini :
KirimSerial.c:
// Percobaan 3.1, Percobaan kirim data serial ke PC
#include
#include
#include
#include
void main(void) {
unsigned char judul[]={“Praktikum mikrokontroler”};
UCSRA=0x00;
UCSRB=0x18;
UCSRC=0x86;
UBRRH=0X00; // Baud rate 9600bps, pada kristal 4 MHz
UBRRL=0X19;
puts(judul); //tampilkan pesan dan ganti baris
putchar(‘O’);
delay_ms(100); //tunggu UDR siap
UDR=’K’;
}
3. Kompilasi dan jalankan, buka hyperterminal , maka akan tampil pesan “Praktikum mikrokontroler”, ganti baris lalu karakter OK.
Percobaan 2. Pengiriman Data ke Mikrokontroler
Langkah-langkahnya;
1. Siapkan SmartAVR ATmega16 ver. 2.0, dan hubungkan dengan kabel AVR ISP Programmer ke PC. Hubungkan juga kabel serial dari mikrokontroler ke Port serial PC
2. Buat program di bawah ini :
TerimaSerial.c:
//Percobaan 3.2, Program terima data dari PC
#include
#include
#include
#include
void main(void) {
unsigned char data;
DDRB=0XFF;
PORTB=0xFF;
UCSRA=0x00; //konfigurasi baud rate 9600bps
UCSRB=0x18;
UCSRC=0x86;
UBRRH=0X00;
UBRRL=0X19;
while (1) {
while (UCSRA.7) //apakah ada data baru yang belum dibaca
{
data=UDR;
PORTB=data; // data dikirim ke Port B
}
}
}
3. Jalankan program, tekan angka 0,1,2 dan seterusnya, lihat data yang terkirim ke Port B dalam format ASCII( Misal angka 0 = 30H, angka 1=31H dst).

6 Tanggapan

  1. wah tit…boleh minta ajar mikro ne….hhe

  2. mas boleh minta garapxn programnya TA q gak,…

  3. mas master, sy minta tolong donk, saya ingin ngirim&nerima data dari PC VS ATMega8535, ngirimnya sih dah bisa,cuma nerimanya gimana y??(pake interrupt) jadi UC ngirim data terusmenerus ke PC selama PC tidak mengirim apa2.
    mohon bantuannya y..
    ni email saya ru_kz@yahoo.com
    ditunggu mas..
    oya,saya bikin pake code wizard CodeBisionAVR dgn bahasa C
    thank banyak sebelumnya..

  4. master thatit minta tolong kerjain TA q pek slesai dunk,…………………………….tar gampang dapet KFC kok,…
    di sakina

  5. wah,,, bagus blog nya.. cuma kurang gambar aja🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: