makalah

JURNAL PRAKTIKUM PENGENDALIAN ON-OFF

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam suatu pengendalian proses dikenal berbagai jenis cara  salah satunya adalah proses pengendalian on-off. Pada proses pengendalian jenis ini hanya akan terdapat 2 jenis outputan yaitu bersifat low dan high. Proses penendalian ini apabila digunakan untuk mengendalikan buka tutup control valve maka bukaan control valve hanya akan bisa 0% atau 100%..Syarat utama untuk memakainya adalah bukan untuk menghemat biaya pembelian unit controller melainkan karena proses memang tidak dapat mentolelir fluktuasi process variable pada batas-batas kerja pengendali on-off.

1.2 Permasalahan

Dalam praktikum tentang pengendalian on-off ini terdapat beberapa permasalahan yaitu sebagai berikut :

  1. Peralatan yang harus dikalibrasi ulang
  2. Indikator yang kurang akurat
  3. Tingkat sensitivitas dan resolusi peralatan yang masih kurang

Lanjutkan membaca “JURNAL PRAKTIKUM PENGENDALIAN ON-OFF”

Iklan
kumpulan cerita

CERITA LUCU

LAKI-LAKI PERKASA

Seorang lelaki berumur 80 tahun menikah dengan perempuan berumur 30 tahun. Mereka memutuskan untuk tidur di kamar terpisah karena si suami kalau tidur ngorok dan mengganggu tidur istrinya. Malam pertama setelah pesta pernikahan, si istri sudah siap-siap akan tidur ketika terdengar pintu kamarnya diketuk. Ternyata suaminya yang sudah “siap tempur”. Merekapun berhubungan layaknya suami istri. Setelah selesai si suami kembali ke kamarnya. Si istri kembali bersiap-siap untuk tidur ketika beberapa menit kemudian suaminya masuk lagi. Perempuan tersebut melayaninya dengan baik dan setelah selesai si suami meninggalkan kamarnya. Kali ini si istri yakin tidak akan diganggu lagi dan bersiap untuk tidur. Ia sudah hampir sampai ke alam mimpi ketika terdengar pintu diketuk-ketuk. Ternyata suaminya yang mengajak berhubungan intim. Walaupun terkejut dan hampir tak percaya, si istri melayaninya. Ia sangat terkesan dengan keperkasaan suaminya. “Saya tidak menyangka Mas sekuat ini. Tiga kali dan ketiganya memuaskan. Padahal pacar saya dulu, yang usianya jauh lebih muda dari Mas, hanya kuat sekali,” kata si istri. “Lho, tadi saya sudah ke sini toh?”

Lanjutkan membaca “CERITA LUCU”

Artikel

TEORI KETIDAKPASTIAN KALIBRASI INSTRUMENT

TEORI KETIDAKPASTIAN
(TEORY OF UNCERTAINTY )

I. ILUSTRASI
1.1 STUDIKASUS
Seorang perawat Sebuah RS sedang mengukur suhu badan salah seorang pasiennya dengan menggunakan sebuah termometer gelas yang cukup teliti dan hasilnya 39,4 oC. sesaat dia tidak segera mencatatnya pada buku laporan kerja karena merasa sedikit ragu dengan hasil pengukurannya , sebab suhu tersebu relatif tinggi bagi pasien tersebut, dia memutuskan untuk melakukan pengukuran lagi dan hasilnya malah membuat dia bingung, yaitu 39,6 oC. karena bingung campur penasaran dia melakukan sekali lagi pengukuran dengan maksud memastikan apakah hasil pengukuran yang pertama atau kedua yang akan diambil, dan ternyata pengukuran ke –3 adalah 39,5 oC. Akhirnya dia memutuskan untuk mencoba dan mencoba lagi pengukurannya hingga 10 kali dengan harapan akan mendapatkan hasil terbanyak pada nilai tertentu dan nilai itulah yang akan diambil. Karena dia yakin bahwa nilai yang didapat tidak akan jauh dari sekitar nilai 39 oC, dan nilai terbanyak yang keluar tersebut bagi dia cukup beralasan untuk diambil karena sudah mewakili dari serangkaian proses pengukurannya. Dan dia tetap yakin seyakin-yakinnya bahwa dia tidak bisa memastikan diantara ke 10 hasil pengukuran tersebut mana yang menunjukkan nilai sebenarnya. Dia hanya mendapatkan nilai terbaiknya saja.
Hasil pengukuran dia selengkapnya adalah sbb:
39,4 oC
39,6 oC
39,5 oC
39,4 oC
39, 4 oC
39,5 oC
39,4 oC
39,4 oC
39,5 oC
39,4 oC
Rata –rata : 39,45 oC

1.2 DEFINISI DAN GAMBARAN UMUM

Dari gambaran kasu diatas jelas terlihat bahwa untuk mendapatkan atau menentukan nilai sebenarnya dari suatu hasil pengukuran adalah tidak mungkin, yang memungkinkan dari hasil pengukuran dan yang dapat kita laporkan adalah nlai terbaiknya saja yaitu yang diwakili oleh nilai rata-ratanya.
Jadi pada kasus diatas pasien yang bersangkutan mempunyai suhu badan 39,45 oC, hasil tersebut sudah sangat mewakili dan sudah mendaptkan hasil yang terbaik untuk menyatakan suhu sang pasien tresebut. Walaupun suhu sebenarnya dari sang pasien tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti, yang jelas ada si sekitar nilai 39,45 oC dan disekitar kurang / lebih berapa ?, itulah yang disebut dengan ketidakpastian. Misalnya kurang lebih + X oC, maka nilai sebenarnya dari paien tersebut akan berada ( jatuh ) pada daerah nilai suhu 39,45 – X)oC hingga (39,45 + X ) oC. Jika datanya tunggal, hanya data tersebut diatas , maka nilai ketidakpastiannya dapat diwakili nilai standar deviasinnya. Jadi pada data diatas ketidakpastiannya adalah:
+ 0.07071 oC
dan diyakini bahwa nilai sebenarnya suhu pasien tersebut berada pada daerah 39,379 oC hingga 39,521 oC (39,45 + 0.07071 ) oC
selanjutnya seberapa yakin kita terhadap hasil tersebut diatas, yaitu bahwa nilai sebenarnya betul – betul akan berada pada rentang daerah tersebut, hal inilah yang disebut dengan tingkat kepercayaan ( Confidence level). Misalnya kita menentukan tingkat kepercayaan 95 %, ini berarti bahwa kemunkinan nilai sebenarnya akan berada ( jatuh ) pada lingkup daerah tersebut adalah 95 %. Sedang sisanya mungkin akan jatuh diluar daerah tersebut.
Jadi ketidakpastian adalah : rentang nilai disekitar hasil pengukuran yang didalamnya diharapkan terletak nilai sebenarnya dari besaran ukur.

Lanjutkan membaca “TEORI KETIDAKPASTIAN KALIBRASI INSTRUMENT”

makalah

CONTOH MODUL PRAKTIKUM HIDROLIK PNEUMATIK

PERCOBAAN I
HIDROLIKA

I. Tujuan Percobaan
1. Memahami dan menjelaskan fungsi dan pengaplikasian dari tekanan hidrostatik
2. Memahami pengaplikasian dari system pneumatic dalam pengendalian proses

II. Peralatan Yang Digunakan
1.Motor Hidrolik
2.Pompa Hidrolik
3.Katup (Valve)
4.Tube
5.Selang Hidrolik

III. Teori
Hidrolika adalah suatu ilmu yang mempelajari sifat-sifat dan hokum-hukum yang berlaku pada zat cair baik zat itu dalam keadaan diam ataupun bergerak (mengalir). Dalam sistem hidrolik fluida cair berfungsi sebagai penerus gaya. Minyak mineral adalah jenis fluida cair yang umum dipakai. Pada prinsipnya mekanika fluida dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
1. Hidrostatik : zat cair diam. Contohnya adalah pesawat tenaga hidrolik.
2. Hidrodinamik : zat cair bergerak (mengalir)Contohnya Energi pembangkit listrik tenaga turbin air pada jaringan tenaga hidro elektrik.
Di dalam praktikum ini hanya akan dipelajari hidrolika, yaitu cabang dari ilmu “mekanika fluida”. Dalam suatu rangkaian hidrolis biasanya terdiri atas aktuator, penggerak dan fluida kerja yang bekerja dalam sebuah sistem untuk tujuan tertentu. Dimana komponen-komponen tersebut dapat dilambangkan dalam simbol-simbol rangkaian. Tenaga hidrolik dapat dibagi kedalam bagian suplai tenaga, pengontrol tenaga dan bagian kerja sistem. Bagian penyuplai tenaga digunakan sebagai pengkonversi energi dan penghasil tekanan.

Gambar 1.1 Klasifikasi Hydrolik dalam Penampang dan Skema

Prinsip dasar dari hidrolik adalah sifat fluida cair yang sangat sederhana dan sifat zat cair tidak mempunyai bentuk tetap, tetapi selalu menyesuaikan bentuk yang ditempatinya. Karena sifat cairan yang selalu menyesuaikan bentuk yang ditempatinya, sehingga akan mengalir ke berbagai arah dan dapat melewati dalam berbagai ukuran dan bentuk, sehingga fluida cair tersebut dapat mentranferkan tenaga dan gaya.

Lanjutkan membaca “CONTOH MODUL PRAKTIKUM HIDROLIK PNEUMATIK”

Uncategorized

MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN FISIS

PERCOBAAN I
SENSOR DAN PENGUKURAN

A. TUJUAN PRAKTIKUM :
1. Memahami karakteristik sensor thermal, mekanik, dan optic 2. Memahami instalasi aplikasi sensor dalam sistem pengukuran

B. TEORI DASAR
1. PENGUKURAN
William D.C, (1993), mengatakan alat ukur adalah sesuatu alat yang berfungsi memberikan batasan nilai atau harga tertentu dari gejala-gejala atau sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi. Contoh: voltmeter, ampermeter untuk sinyal listrik; tachometer, speedometer untuk kecepatan gerak mekanik, lux-meter untuk intensitas cahaya, dan sebagainya.
Umumnya didalam pengukuran dibutuhkan instrument sebagai suatu cara fisis untuk menentukan suatu besaran (kualitas) atau variabel. Instrument tersebut membantu peningkatan ketrampilan manusia dalam banyak hal. Memungkinkan seseoraang untuk menentukan nilai dari suatu besaran yang tidak diketahui. Tanpa bantuan instrument tersebut, manusia tidaak dapat menentukannya. Dengan demikian, sebuah instrumen dapat didefinisikan sebuah alat yang digunakan untuk menentukan nilai atau kebesaran dari suatu kuanatitas atau variabel. Pengukuran merupakan suatu himpunan untuk menentukan nilai suatu besaran ukur (objek yang diukur) dengan besaran standart.
Dalam hal pengukuran hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

1. Penentuan spesifikasi alat ukur yang tepat dari besaran ukur
Menyangkut karakteristik dinamik dan karakteristik static (accuracy, presision, sensitivity, linearity, error, span resolution, hyterisis, readability, uncertainty dan dead space)
2. Penentuan metoda dan prosedur pengukuran

Gambar 1.1 Diagram blok pengukuran
Keterangan:
X (t) : besaran yang hendak diukur
Y (t) : besaran yang ditunjuk oleh instrument

1.1 Metode Pengukuran
Pada teknik pengukuran ada beberapa metode yaitu:;
1. Pengukuran langsung
Menggunakan alat ukur yang hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada skala yang tertera pada alat ukur
2. Pengukuran tak langsung
Besaran yang hendak diukur tidak dikenakan secara langsung pada instrument tetapi diubah dahulu pada besaran lain yang setara
3. Pengukuran caliber atas
Menentukan ukuran suatu dimensi apakah terletak didalam atau diluar toleransi alat ukur
4. Perbandingan dengan bentuk standart

1.2 Kesalahan pada Pengukuran
Tidak ada pengukuran yang menghasilkan ketelitian yang sempurna, tetapi adalah penting untuk mengetahui ketelitian yang sebenarnya dan bagaimana kesalahan yang berbeda digunakan dalam pengukuran. Kesalahan-kesalahan dapat terjadi karena berbagai sebab dan umumnya dibagi dalam tiga jenis utama:
a. Kesalahan-kesalahan umum (gross-errors):
Kebanyakan disebabkan oleh kesalahan manusia diantaranya adalah kesalahan pembacaan alat ukur, penyetelan yang tidak tepat dan pemakaian instrument yang tidak sesuai dan kesalahan penaksiran.

b. Kesalahan-kesalahan sistematis (systematic errors):
Disebabkan oleh kekurangan-kekurangan pada instrument sendiri seperti kerusakan atau adanya bagian-bagian yang aus dan pengaruh lingkungan terhadap peralatan atau pemakai.

c. Kesalahan-kesalahan tak disengaja (random errors):
Diakibatkan oleh penyebab-penyebab yang tidak dapat langsung diketahui sebab perubahan-perubahan parameter atau system pengukuran terjadi secara acak.

2. SENSOR
2.1 Pengertian Sensor
Sensor merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk merubah besaran fisik tertentu agar dapat diukur. D Sharon, dkk (1982), mengatakan sensor adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi gejala-gejala atau sinyal-sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi seperti energi listrik, energi fisika, energi kimia, energi biologi, energi mekanik dan sebagainya. Dalam memilih peralatan sensor yang tepat dan sesuai dengan sistem yang akan disensor maka perlu diperhatikan persyaratan umum sensor berikut ini :
a. Linearitas
Ada banyak sensor yang menghasilkan sinyal keluaran yang berubah secara kontinyu sebagai tanggapan terhadap masukan yang berubah secara kontinyu. Sebagai contoh, sebuah sensor panas dapat menghasilkan tegangan sesuai dengan panas yang dirasakannya
b. Sensitivitas
Sensitivitas akan menunjukan seberapa jauh kepekaan sensor terhadap kuantitas yang diukur. Sensitivitas sering juga dinyatakan dengan bilangan yang menunjukan “perubahan keluaran dibandingkan unit perubahan masukan”. Beberepa sensor panas dapat memiliki kepekaan yang dinyatakan dengan “satu volt per derajat”, yang berarti perubahan satu derajat pada masukan akan menghasilkan perubahan satu volt pada keluarannya. Sensor panas lainnya dapat saja memiliki kepekaan “dua volt per derajat”, yang berarti memiliki kepakaan dua kali dari sensor yang pertama. Linieritas sensor juga mempengaruhi sensitivitas dari sensor. Apabila tanggapannya linier, maka sensitivitasnya juga akan sama untuk jangkauan pengukuran keseluruhan.
c. Tanggapan Waktu
Tanggapan waktu pada sensor menunjukan seberapa cepat tanggapannya terhadap perubahan masukan. Sebagai contoh, instrumen dengan tanggapan frekuensi yang jelek adalah sebuah termometer merkuri. Masukannya adalah temperatur dan keluarannya adalah posisi merkuri. Misalkan perubahan temperatur terjadi sedikit demi sedikit dan kontinyu terhadap waktu.
Frekuensi adalah jumlah siklus dalam satu detik dan diberikan dalam satuan hertz (Hz). { 1 hertz berarti 1 siklus per detik, 1 kilohertz berarti 1000 siklus per detik]. Pada frekuensi rendah, yaitu pada saat temperatur berubah secara lambat, termometer akan mengikuti perubahan tersebut dengan “setia”. Tetapi apabila perubahan temperatur sangat cepat, maka tidak diharapkan akan melihat perubahan besar pada termometer merkuri, karena ia bersifat lamban dan hanya akan menunjukan temperatur rata-rata.

Perkembangan sensor sangat cepat sesuai kemajuan teknologi otomasi, semakin komplek suatu sistem otomasi dibangun maka semakin banyak jenis sensor yang digunakan. Dalam system pengukuran dikenal beberapa jenis sensor diantaranya yaitu :
1. Sensor thermal
Sensor thermal adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi gejala perubahan panas/temperature/suhu pada suatu dimensi benda atau dimensi ruang tertentu.
Contoh: resistance temperature detector (RTD), thermistor thermocouple, LM-35

2. Sensor mekanik
Sensor mekanis adalah sensor yang mendeteksi perubahan gerak mekanis, seperti perpindahan atau pergeseran atau posisi, gerak lurus dan melingkar, tekanan, aliran, level dsb.
Contoh: potensiometer, linear variabel differential transformer (LVDT), strain gauge plezoelectric
3. Sensor optic
Sensor optic atau cahaya adalah sensor yang mendeteksi perubahan cahaya dari sumber cahaya, pantulan cahaya ataupun bias cahaya yang mengernai benda atau ruangan.
Contoh: photoconductive detectors, photovoltaic detectors, photodiode detectors, photoemisive detectors, light dependent resistant (LDR)

Sensor Thermal
1. Thermocouple
Bentuk fisik dari thermocouple adalah terdiri dua buah logam yang berbeda yang disatukan pada salah satu ujungnya. Dalam thermocouple terjadi suatu fenomena yang dikenal sebagai:
– efek seedbeck
– efek peltier
Thermocouple dari bahan logam pembentuknya dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, dimana masing-masing jenis memiliki range pengukuran, sensitivitas, dan linearitas yang berbeda sebagai faktor-faktor yang diperhatikan dalam pemilihan thermocouple pada aplikasinya. Thermocouple adalah salah satu alat ukur temperature yang umum digunakan karena kelebihannya dapat mengukur temperature hingga ratusan bahkan ribuan derajat celcius.

Lanjutkan membaca “MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN FISIS”

Artikel

DASAR DASAR PENGUKURAN DAN PENGENDALIAN PID Bagian 2


DASAR DASAR PENGUKURAN  DAN PENGENDALIAN PID Bagian 2
DP Transmitter Aplikasi
Sebuah DP digunakan untuk mengukur tekanan gas (dalam skala pengukur) di dalam kapal. Dalam kasus ini, tekanan rendah sisi pemancar adalah vented ke atmosfer dan tekanan tinggi sisi terhubung ke kapal melalui katup mengisolasi. Katup yang mengisolasi memfasilitasi pemindahan pemancar. Output dari pemancar DP sebanding dengan tekanan gauge gas, yaitu, 4 mA saat tekanan adalah 20 kPa dan 20 mA saat tekanan adalah 30 kPa.
2.1.6 Strain Gauges
Alat ukur regangan adalah alat yang dapat ditempelkan pada permukaan objek untuk mendeteksi gaya yang diberikan ke objek. Salah satu bentuk dari alat ukur regangan kawat adalah logam berdiameter sangat kecil yang melekat pada permukaan perangkat yang dipantau. Untuk logam, hambatan listrik akan meningkat dengan panjang logam meningkat atau sebagai diameter penampang silang berkurang. Bila diterapkan gaya seperti ditunjukkan pada Gambar 8, panjang keseluruhan kawat cenderung meningkat sementara luas penampang berkurang. Jumlah peningkatan perlawanan sebanding dengan gaya yang menghasilkan perubahan panjang dan luas. Output dari alat ukur regangan adalah perubahan resistansi yang dapat diukur dengan rangkaian input dari sebuah penguat. Regangan dapat terikat ke permukaan tekanan kapsul atau ke bar gaya diposisikan oleh elemen pengukuran. Ditunjukkan pada Gambar 9 (halaman berikutnya) adalah alat ukur regangan yang terikat pada kekuatan DP balok di dalam kapsul. Perubahan dalam tekanan proses resistif akan menyebabkan perubahan dalam regangan, yang kemudian digunakan untuk menghasilkan sinyal 4-20 mA.
2.1.7 Kapasitansi Capsule
Serupa dengan alat ukur regangan, sebuah ukuran sel kapasitansi perubahan dalam karakteristik listrik. Seperti namanya kapasitansi perubahan ukuran sel kapasitansi. Kapasitor adalah sebuah alat yang menyimpan muatan listrik. Terdiri dari pelat logam yang dipisahkan oleh isolator listrik. Pelat logam yang terhubung ke sebuah sirkuit listrik eksternal melalui mana muatan listrik dapat ditransfer dari satu pelat logam yang lain. Kapasitansi sebuah kapasitor adalah ukuran kemampuannya untuk menyimpan muatan. Kapasitansi kapasitansi dari suatu kapasitor berbanding lurus dengan daerah pelat logam dan berbanding terbalik dengan jarak antara mereka. Ini juga tergantung pada karakteristik dari bahan isolasi di antara mereka. Karakteristik ini, disebut permitivitas adalah ukuran seberapa baik bahan isolasi meningkatkan kemampuan kapasitor untuk menyimpan muatan.

Lanjutkan membaca “DASAR DASAR PENGUKURAN DAN PENGENDALIAN PID Bagian 2”

Artikel

DASAR DASAR PENGUKURAN DAN PENGENDALIAN PID Bagian 1

DASAR DASAR PENGUKURAN  DAN PENGENDALIAN PID Bagian 1
Instrumentasi adalah seni mengukur nilai beberapa parameter plant, tekanan, aliran, tingkat atau temperatur untuk beberapa nama dan memasok sinyal yang sebanding dengan parameter yang diukur. Sinyal keluaran standar sinyal dan kemudian dapat diproses oleh peralatan lainnya untuk memberikan indikasi, alarm atau kontrol otomatis. Ada sejumlah sinyal standar, namun mereka yang paling umum di sebuah pabrik CANDU 4-20 mA adalah sinyal elektronik dan 20-100 kPa sinyal pneumatik. Bagian ini tentu saja akan berurusan dengan peralatan instrumentasi biasa digunakan untuk mengukur dan memberikan sinyal. Kita akan melihat ukuran dari lima parameter: tekanan, aliran, level, suhu, dan neutron fluks.
PENGUKURAN TEKANAN 2,1
Modul ini akan membahas teori dan detektor tekanan operasi (Bourdon tube, diafragma, bellow, memaksa keseimbangan dan variabel kapasitansi). Ini juga mencakup variabel lingkungan operasi (tekanan, temperatur) dan cara-cara yang mungkin kegagalan.
2.1.1 General Theory
Tekanan mungkin salah satu yang paling umum variabel diukur dalam pembangkit listrik. Ini mencakup pengukuran tekanan uap; feed tekanan air, kondensor tekanan, tekanan minyak pelumas dan banyak lagi. Tekanan sebenarnya adalah pengukuran gaya yang bekerja pada permukaan bidang. Kita bisa mewakili ini sebagai: Satuan pengukuran yang baik dalam pound per square inch (PSI) di British unit atau pascal (Pa) dalam metrik. Sebagai salah satu PSI adalah sekitar 7.000 Pa, kita sering menggunakan kPa dan MPa sebagai unit tekanan.
2.1.2 Tekanan Scales
Sebelum kita masuk ke bagaimana tekanan dirasakan dan diukur, kita harus menetapkan seperangkat aturan dasar. Tekanan bervariasi tergantung pada ketinggian di atas permukaan laut, tekanan cuaca front dan kondisi lain. Ukuran tekanan Oleh karena itu, relatif dan tekanan pengukuran dinyatakan sebagai alat ukur baik atau absolut. Tekanan gauge adalah satuan yang kita jumpai dalam pekerjaan sehari-hari (misalnya, ban peringkat berada dalam tekanan gauge). Sebuah perangkat tekanan gauge akan menunjukkan tekanan nol ketika berdarah turun ke tekanan atmosfer (yaitu, tekanan gauge direferensikan tekanan atmosfer). Tekanan gauge dilambangkan oleh (g) pada akhir satuan tekanan [misalnya, kPa (g)]. Tekanan mutlak mencakup efek dari tekanan atmosfer dengan tekanan gauge. Hal ini dilambangkan oleh (a) pada akhir satuan tekanan [misalnya, kPa (a)]. Indikator tekanan mutlak akan menunjukkan tekanan atmosfer ketika benar-benar vented turun ke atmosfer – itu tidak menunjukkan skala nol. Tekanan absolut = Tekanan gauge + Tekanan atmosfer Gambar 1 menggambarkan hubungan antara mutlak dan gauge. Perhatikan bahwa titik dasar untuk mengukur skala [0 kPa (g)] atau tekanan atmosfer standar 101,3 kPa (a). Mayoritas pengukuran tekanan di pabrik adalah gauge. Mutlak pengukuran cenderung digunakan di mana di bawah tekanan atmosfir. Biasanya ini adalah sekitar vakum kondensor dan bangunan.
2.1.3 Pengukuran Tekanan
Objek tekanan penginderaan adalah untuk menghasilkan indikasi dial, pengendalian operasi atau standar (4 – 20 mA) sinyal elektronik yang menunjukkan tekanan dalam suatu proses. Untuk mencapai hal ini, kebanyakan sensor-sensor tekanan tekanan diterjemahkan ke dalam gerakan fisik yang sebanding dengan tekanan yang diberikan. Tekanan yang paling umum sensor atau tekanan utama elemen yang dijelaskan di bawah ini. Mereka termasuk diafragma, tekanan bellow, Bourdon kapsul tabung dan tekanan. Dengan sensor tekanan ini, gerakan fisik sebanding dengan tekanan yang diberikan dalam rentang operasi. Anda akan melihat bahwa tekanan diferensial istilah ini sering digunakan. Istilah ini mengacu pada perbedaan tekanan antara dua kuantitas, sistem atau perangkat

Lanjutkan membaca “DASAR DASAR PENGUKURAN DAN PENGENDALIAN PID Bagian 1”

Artikel

BASIC INSTRUMENTATION MEASURING DEVICES AND BASIC PID CONTROL Part 2

BASIC INSTRUMENTATION MEASURING DEVICES AND BASIC PID CONTROL Part 2

DP Transmitter Application
A DP transmitter is used to measure the gas pressure (in gauge scale) inside a vessel. In this case, the low-pressure side of the transmitter is vented to atmosphere and the high-pressure side is connected to the vessel through an isolating valve. The isolating valve facilitates the removal of the transmitter. The output of the DP transmitter is proportional to the gauge pressure of the gas, i.e., 4 mA when pressure is 20 kPa and 20 mA when pressure is 30 kPa.

2.1.6 Strain Gauges
The strain gauge is a device that can be affixed to the surface of an object to detect the force applied to the object. One form of the strain gauge is a metal wire of very small diameter that is attached to the surface of a device being monitored. For a metal, the electrical resistance will increase as the length of the metal increases or as the cross sectional diameter decreases. When force is applied as indicated in Figure 8, the overall length of the wire tends to increase while the cross-sectional area decreases. The amount of increase in resistance is proportional to the force that produced the change in length and area. The output of the strain gauge is a change in resistance that can be measured by the input circuit of an amplifier. Strain gauges can be bonded to the surface of a pressure capsule or to a force bar positioned by the measuring element. Shown in Figure 9 (next page) is a strain gauge that is bonded to a force beam inside the DP capsule. The change in the process pressure will cause a resistive change in the strain gauges, which is then used to produce a 4-20 mA signal.

2.1.7 Capacitance Capsule
Similar to the strain gauge, a capacitance cell measures changes in electrical characteristic. As the name implies the capacitance cell measures changes in capacitance. The capacitor is a device that stores electrical charge. It consists of metal plates separated by an electrical insulator. The metal plates are connected to an external electrical circuit through which electrical charge can be transferred from one metal plate to the other. The capacitance of a capacitor is a measure of its ability to store charge. The capacitance of the capacitance of a capacitor is directly proportional to the area of the metal plates and inversely proportional to the distance between them. It also depends on a characteristic of the insulating material between them. This characteristic, called permittivity is a measure of how well the insulating material increases the ability of the capacitor to store charge.

Lanjutkan membaca “BASIC INSTRUMENTATION MEASURING DEVICES AND BASIC PID CONTROL Part 2”

Artikel

BASIC INSTRUMENTATION MEASURING DEVICES AND BASIC PID CONTROL Part 1

BASIC INSTRUMENTATION MEASURING DEVICES AND BASIC PID CONTROL Part 1

Instrumentation is the art of measuring the value of some plant parameter, pressure, flow, level or temperature to name a few and supplying a signal that is proportional to the measured parameter. The output signals are standard signal and can then be processed by other equipment to provide indication, alarms or automatic control. There are a number of standard signals; however, those most common in a CANDU plant are the 4-20 mA electronic signal and the 20-100 kPa pneumatic signal. This section of the course is going to deal with the instrumentation equipment normal used to measure and provide signals. We will look at the measurement of five parameters: pressure, flow, level, temperature, and neutron flux.

2.1 PRESSURE MEASUREMENT
This module will examine the theory and operation of pressure detectors (bourdon tubes, diaphragms, bellows, forced balance and variable capacitance). It also covers the variables of an operating environment (pressure, temperature) and the possible modes of failure.

2.1.1 General Theory

Pressure is probably one of the most commonly measured variables in the power plant. It includes the measurement of steam pressure; feed water pressure, condenser pressure, lubricating oil pressure and many more. Pressure is actually the measurement of force acting on area of surface. We could represent this as: The units of measurement are either in pounds per square inch (PSI) in British units or Pascals (Pa) in metric. As one PSI is approximately 7000 Pa, we often use kPa and MPa as units of pressure.

Lanjutkan membaca “BASIC INSTRUMENTATION MEASURING DEVICES AND BASIC PID CONTROL Part 1”

Artikel

FLOW MEASUREMENT

Flow Sensor

Measurement of fluid flow rate is one of the most important in the process control flow. This measurement aims to find out how much capacity the flow of fluid to get the price is measured (measurement variables). The flow is generally measured by the amount of fluid velocity through a particular cross-sectional area, or
Qv = A x V. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … (2.1)
where: qv: the flow rate (m3 / s)
A: cross-sectional area of pipe (m2)
V: fluid velocity (m / s)
Four important factors in the measurement of fluid flow in pipes is:
• The speed of fluid
• Friction / fluid friction with the pipe
• The viscosity / viscosity of the fluid
• density / density of the fluid

Lanjutkan membaca “FLOW MEASUREMENT”