Artikel

CARA MENGKAJI P&ID

CARA MENGKAJI PIPING & INSTRUMENTATION DIAGRAM

Oleh: Cahyo Hardo Priyoasmoro
Moderator Milis Migas Indonesia
Bidang Keahlian Process Engineering

PENDAHULUAN

Menurut hemat saya, selama bekerja di operasi produksi pabrik minyak dan gas bumi industri hulu, terlihat bahwa kekurangsempurnaan seseorang dalam mengartikan gambar P&ID terletak pada pengetahuan yang kurang terhadap unit operasi, keterkaitan antar unit operasi, plant safety, serta perhatian detil pada catatan-catatan kaki di P&ID itu sendiri. Tidak dimengertinya atau tidak dibacanya Process Flow Diagram atau PFD juga merupakan faktor penyumbang yang cukup significant.
Tulisan ini diperuntukkan bagi mereka yang bekerja di front line operation, para operator, para process engineer, operation engineer, dan mereka yang berminat terhadap surface facility operation. Diusahakan dalam tulisan ini, seminimal mungkin menghilangkan hal-hal yang terlalu teknik karena konsumen utamanya adalah para operator dan pekerja lapangan.
Di dalam tulisan ini, ada beberapa tebakan yang memancing para pembaca untuk berpikir. Diusahakan tebakannya adalah hal-hal praktis yang akan ditemui di lapangan. Jawaban tebakan ini ada di halaman akhir tulisan.
Beberapa bagian dari tulisan ini pernah dipublikasikan di Milis Migas Indonesia, ataupun milis Teknik Kimia ITB, hanya saja sedikit diubah guna mendukung tema dari tulisan ini.
Semoga berguna dan tiada maksud untuk menggurui.

Salam, Cahyo Hardo

Lanjutkan membaca “CARA MENGKAJI P&ID”

Iklan
umum

MODUL PRAKTIKUM PENGENDALIAN

MODUL PRAKTIKUM PENGENDALIAN

BAB I
DASAR TEORI

1. Konsep Sistem Pengendalian Suatu Proses
Instrumentasi merupakan device atau peralatan yang digunakan untuk menunjang sebuah sistem dalam menjalankan proses tertentu untuk tujuan tertentu pula. Setiap kegiatan proses dalam sebuah system di industri senantiasa membutuhkan peralatan–peralatan otomatis untuk mengendalikan parameter–parameter prosesnya. Otomatisasi tidak saja diperlukan demi kelancaran operasi, keamanan, ekonomi, maupun mutu produk, tetapi lebih mengutamakan pada kepentingan penggunaan manusia (user) sebagai kontrol manual, kecepatan, kualitas, serta kuantitas yang dihasilkan dibandingkan dengan menggunakan kontrol manual, dalam hal ini manusia sebagai pengendali dan pelaku keputusan. Hampir semua proses industri dalam menjalankan proses produksinya membutuhkan bantuan sistem pengendali, contohnya pengendalian di suatu proses pengilangan minyak. Proses di suatu pengilangan minyak tidak mungkin dapat dijalankan tanpa bantuan fungsi sistem pengendalian. Ada banyak pengendalian yang harus dikendalikan di dalam suatu proses. Diantaranya yang paling umum, adalah tekanan (pressure) didalam sebuah vessel atau pipa, aliran (flow) didalam pipa, suhu (temperature) di unit proses seperti heat exchanger, atau permukaan zat cair (level) disebuah tangki. Ada beberapa parameter lain diluar keempat elemen diatas yang cukup penting juga dan juga perlu dikendalikan karena kebutuhan spesifik proses, diantaranya : pH, Velocity, berat, lain sebagainya.
Gabungan serta kerja alat–alat pengendali otomatis itulah yang dinamai dengan sistem pengendalian proses (proses control system). Sedangkan semua peralatan yang membentuk sistem pengendali disebut Instrumentasi pengendali proses (process control instrumentation). Dan sekarang tidak lagi memakai pe-ngendalian manual kontrol tetapi masih tetap dipakai pada beberapa aplikasi ter-tentu. Untuk itu, sistem dibuat otomatis peran operator didalam sistem pengen-dalian manual digantikan oleh sebuah alat yang disebut controller. Tugas pelaksana keputusan (aksi control valve) tidak lagi dilakukan oleh operator (manusia), tetapi atas perintah controller yang operasinya dikendalikan oleh user. Untuk keperluan pengendalian otomatis, valve harus dilengkapi dengan alat yang disebut actuator, sehingga unit valve sekarang menjadi unit yang disebut control valve. Semua peralatan pengendalian inilah (controller dan control valve) yang disebut sebagai instrumentasi pengendali proses.

Pengendalian pada umumnya menghendaki proses berjalan dengan stabil. Proses yang stabil merupakan sebuah proses dimana besarnya setpoint sama dengan besarnya meassurment variabel, sehingga error sama dengan nol. Error yang sama dengan nol ini dapat mengakibatkan tidak adanya manipulated variabel untuk membuka atau menutup valve yang menjadikan sebuah proses yang berjalan secara kontinyu tanpa gangguan. Namun pada kenyatannya perubahan load, kinerja mekanik instrument, perubahan setpoint dan faktor – faktor lain yang dapat mengakibatkan suatu proses tidak stabil. Hal ini lazim terjadi pada suatu sistem pengendalian, sehingga perlu sebuah controller untuk mengendalikan suatu proses agar dapat kembali ke posisi stabil.

Lanjutkan membaca “MODUL PRAKTIKUM PENGENDALIAN”

umum

MODUL PRAKTIKUM PLC

PERCOBAAN P-1
WIRING (PENGKABELAN) PADA PLC

Output dan input PLC membutuhkan sarana untuk mentranfer datanya. Dalam prakteknya, input dan output PLC diletakkan di panel – panel. Dimana di dalam panel – panel tersebut disusun urut – urutan input output perbagian proses. Contoh :
Pada pabrik coca-cola terdapat bagian untuk memproduksi coca-cola dalam tabung. Urut-urutan prosesnya adalah syrup, water strilization, mixing, washer, filling, dan carbonating. Langkah pertama yang dilakukan adalah menghitung jumlah input dan output yang ada dalam tiap bagian. Contoh
No Proses Jumlah Input Jumlah Output
1. Sirup 6 3
2. Water sterilization 5 2
3. Mixing 7 2
4. Washer 6 3
5. Filling 4 2
6. Carbonating 2 4
Jumlah 30 15

Setelah menghitung jumlahnya, tambahkanlah jumlah input dan output sebagai reserved. Yang dimaksud dengan reserved adalah, bila suatu saat nanti ada pengembangan atau penambahan device.
Kemudian pastikan dalam pemasangan kabel dari device ke panel berurutan per proses dan jangan meloncat-loncat. Hal itu dimaksudkan untuk memeudahkan dalam melakukan tracing jika ada masalah di lapangan.
Contoh : asumsikan kita memakai PLC Omron C200HS dengan I/O On-Off. Dimana tiap satu I/O mempunyai 16 port.

Wiring pada card I/O
Diasumsikan tiap proses ditambah 2 lines untuk reserved.

Wiring pada card INPUT

Lanjutkan membaca “MODUL PRAKTIKUM PLC”

umum

CONTOH MODUL PRAKTIKUM 2

PERCOBAAN I
P-N JUNCTION, BJT DAN FET SEBAGAI PENGUAT

TUJUAN PRAKTIKUM :
1. Mempelajari dan mengetahui karakteristik dasar dari diode P-N Junction
2. Dapat menggunakan karakteristik ideal dari diode dalam menganalisa rangkaian diode (P-N Junction).
3. Mempelajari parameter transistor yang dirangkai dalma konfigurasi common emitter (CE), common base (CB), dan common collector (cc).

4. Mempelajari karakteristik dan kerja FET (field Effect Transistor) sebagai penguat (amplifier).

Lanjutkan membaca “CONTOH MODUL PRAKTIKUM 2”

umum

CONTOH MODUL PRAKTIKUM

MODUL PRAKTIKUM
MIKROKONTROLER DAN INTERFACING

WORKSHOP INSTRUMENTASI
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK INSTRUMENTASI
JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2009

PERCOBAAN I
SENSOR DAN SINYAL CONDITIONING

1. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui dan memahami prinsip kerja dari SC ( Zero Span dan Differensiator )
2. Merancang SC Zero Span dan Differensiator

3. Memahami karakteristik sensor thermal, mekanik, dan optic.

Lanjutkan membaca “CONTOH MODUL PRAKTIKUM”